Wednesday, 12 November 2008

Resensi

Sumber: Kompas, 14 Juni 2008 00:01 WIB



Kotak Kayu Rahasia Kerajaan Mongol

Judul Buku : The Treasure of Genghis Khan-Titisan Khan Sang Penakluk
Penulis : Clive Cussler dan Drick Clussler
Penerbit : Dastan Books, Jakarta
Edisi : I, Maret 2008
Tebal : 628 halaman


SEJARAH penaklukan suatu bangsa selalu menyisakan peristiwa-peristiwa heroik. Napoleon Bonaparte, Salahuddin Al-Ayyubi, Adolf Hitler, dan seterusnya. Semuanya menyisakan romantisme perjuangan dan kegigihan seorang pemimpin. Penaklukan sendiri mempunyai dua makna ekstrem, bagaikan dua sisi mata pisau yang sama-sama tajam.

Dari satu sisi, penaklukan adalah peristiwa heroisme tertinggi yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk negaranya, di sisi lain penaklukan dapat dimaknai sebagai kebengisan oleh negara terhadap negara lain.

Penaklukan adalah sebuah seni, itulah yang dihadirkan dalam buku The Treasure of Genghis Khan karya Clive Cussler dan Drick Clussler ini.

Dua penulis ini memaparkan novel historis ini dalam bentuk navigasi naratif, dengan menghadirkan fakta-fakta tentang kekuasaan Mongol yang dimulai dari kepemimpinan Genghis Khan sampai pada runtuhnya pada 1294 dengan Khubilai Khan sebagai raja terakhir.

Genghis Khan yang agung yang biasa disebut sebagai sang penakluk dari timur adalah seorang penakluk yang ulung, terkenal dengan kecerdasannya, melampaui berbagai medan perang, menaklukkan hampir semua daratan.

Novel ini dengan dramatis menggambarkannya, dan di sinilah kepintaran penulis dan kelebihan novel ini. Alur cerita dibungkus dengan epik-epik heroistis, membungkus pokok bahasan novel tentang kerahasiaan sejarah Mongol. Diagram rahasia lokasi makam raja-raja Mongolia pun tetap tersimpan rapi, karena pada 1937 pesawat yang ditumpangi arkeolog Inggris tertembak oleh pesawat militer Jepang.

Sang arkeolog tertembak dan tidak dapat menyelamatkan situs yang begitu bersejarah, sebuah kotak kayu yang berisi diagram lokasi makam-makam suci yang bisa mengungkap fakta sejarah tentang kekuasaan Mongol tetap tidak tersentuh.

Satu catatan yang perlu ditambahkan mengenai buku ini adalah nalar tutur yang informatif, menghibur, dibumbui aksi yang bergulir begitu cepat dan mengagumkan. Mengarahkan imajinasi pembaca kepada sejarah panjang masa awal penaklukan Genghis Khan, masa pertengahan dengan runtuhnya dominasi Mongol dan dengan masa kekinian dengan tetap terjaganya rahasia situs makam para raja Mongol. ***

Oleh: Mustathok, penikmat novel, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktivis The Indonesian Famous Institute dan Kelompok Studi Tlaga Hijau Ciputat

No comments: