Monday, 24 November 2008

Menelisik Duel Politik Obama vs McCain



Judul : Barack Obama vs McCain; Duel Politik yang Sangat Menentukan Perubahan Nasib Amerika dan Dunia
Penulis : Achmad Munif
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Cetakan I : Juli 2008
Tebal : 104 halaman.
Peresensi : Lukman Santoso Az, Pecinta Buku dan Pustakawan Hasyim Asy’arie Institute Yogyakarta.

Pemberitaan media seputar pemilihan presiden di AS tampaknya menjadi berita hangat sekaligus menegangkan akhir-akhir ini. Negara adidaya itu akan melakukan suksesi kepemimpinan yang sangat berpengaruh terhadap iklim politik internasional. Ini tidak terlepas dari status Amerika sebagai negara paling berpengaruh di seantaro dunia. Momentum pemilihan di AS menjadi momentum pengharapan sekaligus kegelisahan bagi publik dunia, karena siapapun yang akan memimpin Amerika, sejatinya juga akan menentukan nasib percaturan politik-ekonomi dunia. Hal inilah yang membuat detik-detik pemilihan presiden Amerika selalu menyita perhatian masyarakat internasional.



Kemenangan Barack Obama atas Hillary Clinton dalam pemilihan pendahuluan kandidat presiden AS dari partai Demokrat mengukuhkan dirinya sebagai calon tunggal dari partai itu. Sedangkan dari Partai Republik terpilih John McCain yang tak mau kalah menjadi kandidat utama calon presiden AS. Prediksi publik dunia bahwa Obama memiliki peluang lebih dibanding kandidat lain tampaknya mulai terbaca. Meskipun ini belumlah kesimpulan akhir yang sesungguhnya, karena Obama masih harus mengalahkan McCain dalam pemilihan presiden yang akan digelar November mendatang.

Dalam konteks itu, buku yang ditulis Achmad Munif ini berupaya mengupas rekam jejak sosok Obama dan rivalnya, McCain sekaligus peluang masing-masing kandidat dalam memenangkan perebutan kursi presiden di AS. Obama adalah sosok politisi yang masih muda dan baru dikenal publik AS maupun dunia sekitar 2 tahun lalu. Meskipun belum berpengalaman, Ia pandai berkomunikasi baik langsung maupun tidak dengan warga AS. Ia seringkali menuangkan isi pikiran, pendapat serta ide-ide barunya melalui sebuah audiofile podcasting yang bisa diakses oleh publik di seluruh dunia. Suaranya yang bersahaja dan ramah mengesankan seolah-olah beliau sedang berbicara langsung secara personal kepada para pendengarnya. Hal ini tentunya yang menjadi nilai lebih Obama dibanding politisi dimanapun.

Berbeda dengan McCain, meskipun sudah tua bukan berarti tak memiliki peluang besar. Dengan berbekal segudang pengalaman, McCain menjadi calon dari partai Republik yang tidak boleh dianggap remeh. Dalam sejarah Amerika, kredibilitas McCain telah terbukti sekaligus diakui sebagai patriot yang cinta terhadap Amerika. McCain adalah seorang veteran perang AS yang memiliki pengalaman perang cukup panjang dan terjal. Bertahun-tahun McCain menjadi pilot pesawat tempur Skyhawk dan selama lebih dari 5 tahun diterjunkan dalam rimba perang di Vietnam. Faktor inilah yang membuat kalangan militer AS menaruh kepercayaan kuat dalam mengalirkan dukungan atas McCain.

Dalam duel politik ini, Obama mencoba mengambil hati publik Amerika yang mengecam serangan AS ke Irak dengan program kerja luar negerinya. Dalam konteks ini, Obama sejak awal dengan jelas mengatakan tidak setuju dengan perang Irak. Selain itu, Obama juga ingin bekerja sama dengan Rusia untuk mengamankan bahan-bahan nuklir, sehingga pada saat yang bersamaan mampu mendorong penerapan demokrasi dan transparansi di Rusia. Ia juga ingin memperkuat NATO, membangun aliansi baru di Asia, menghentikan genosida di Darfur, memperjuangkan perdamaian di Timur Tengah, dan membantu negara-negara miskin membangun ekonomi pasar yang bernilai guna. Obama tidak berbicara banyak mengenai ekonomi. Namun, terdapat kesan bahwa garis besar kebijakan ekonominya akan terbuka pada angin globalisasi.

Dengan sikap Obama yang semacam ini, John McCain, calon presiden dari Partai Republik, meledek sifat plin-plan Obama yang dianggapnya bukti bahwa calon Demokrat itu terlalu muda dan kurang berpengalaman menjadi presiden negara adidaya satu-satunya di dunia. McCain sendiri berumur 71 tahun dan amat berpengalaman, sebagai perwira karier Angkatan Udara AS, tawanan perang Vietnam, dan sebagai senator dari Negara Bagian Arizona.

Namun, pernyataan dan tindakan Obama ini sebenarnya cukup konsisten dan mencerminkan posisinya sejak awal. Garis besarnya bisa diketahui melalui dua buku yang ditulis sebelum beraspirasi menjadi politikus tingkat nasional. Daya tarik Obama sejatinya justru terletak pada hasrat kuatnya untuk menciptakan visi baru yang tidak mewakili hanya kubu progresif atau Partai Demokrat, tetapi juga kubu marjinal. Dari dulu, dengan amat serius ia mencari solusi baru untuk masalah-masalah yang sudah terlalu lama memecah-belah bangsa AS ini. Kini, banyak gagasannya diperolok kiri-kanan, baik dari sayap paling progresif di Partai Demokrat maupun dari sayap paling konservatif di Partai Republik. Mungkin sekali, suasana politik yang tegang ini tidak akan reda sebelum hari pemilu awal November digelar.

Jika sebelumnya deru kemelut kedua kandidat berkutat pada persoalan kapabilitas, patriotisme serta isu rasial, kini aroma persaingan itu lebih mengarah pada sejumlah program kerja serta upaya masing-masing kandidat dalam merespon persoalan dunia global. Persaingan itu setidaknya dapat dilihat melalui beberapa agenda paling strategis, yakni; terkait perang Irak, mengenai pajak kekayaan, sistem tenaga kerja, serta seputar isu global warmming.

Pesaingan antara Obama dan McCain tentu akan menjadi pertarungan politik paling menegangkan sepanjang sejarah Amerika. Mengingat ini adalah pemilihan presiden di AS pertama kali di mana seorang calon presiden dari kulit putih akan berhadapan dengan calon dari kulit hitam. Dan ini tentu menjadi ujian sekaligus pembelajaran demokrasi yang menarik bagi Amerika. Akhirnya, apapun yang akan terjadi pada Amerika dan dunia setelah pemilihan di AS, ini bergantung bagaimana publik AS mampu memilih presidennya secara cermat. Tetapi yang patut diingat bahwa, masa depan Amerika dan dunia Internasional bergantung pada siapa presiden AS nantinya!.

No comments: