Monday, 24 November 2008

Menelisik Kemanunggalan Siti Jenar



Judul buku : Manunggaling Kawula Gusti, Filsafat Kemanunggalan Syek Siti Jenar
Penulis : K.H. Muhammad Sholikhin
Penerbit : NARASI, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 418 halaman
Peresensi : Moh. Rusdi, Pecinta buku-buku filsafat, tinggal di Yogyakarta.


Syekh Siti Jenar dikenal sebagai sosok yang paling fenomenal dari sekian banyak wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang kemudian sejak abad-17 disebut walisanga. Dilabeli mbalela, yakni sebagai wali penyesat umat oleh pengadilan kesultanan Demak dihadapan majelis walisanga, Siti Jenar lantas divonis hukuman pancung. Menarik bahwa Siti Jenar ikhlas begitu saja menerima keputusan tersebut tanpa perlawanan. Dan konon darah yang mengalir dari tubuhnya menebarkan wangi harum dan tetesan-tetesan darahnya membentuk ka limat syahadat.



Misteri Siti Jenar tidak cukup berhenti disitu saja. Sebagai seorang wali yang kisah dan ajarannya begitu populer di masyarakat Siti Jenar diragukan keberadaannya oleh para ahli sejarah sebagai tokoh sejarah yang pernah hadir di Indonesia. Ajarannya yang menyimpang dari mainstream agama Islam pada umumnya merupakan penyebab ia disembunyikan dari penulisan buku sejarah. Kalaupun ditulis, maka diberi penekanan bahwa ia hanyalah tokoh mitos. Jadi bukan semata karena keberadaannya sementara yang diragukan. Tapi lebih karena selubung-selubung politik, dan unsur kepentingan paham keagamaan. Hingga kini, dominasi agama menganggap bahwa ajarannya penuh mistik dan khayalan, tidak rasional dan jauh dari nuansa filosofis.


Pembengkokan sejarah maupun opini bersifat parsial itulah yang coba diluruskan Muhammad Sholikhin dalam buku Manunggaling Kawula Gusti, Filsafat Kemanunggalan Syek Siti Jenar ini. Dengan mengungkapkan temuan baru mengenai rincian silsilah keilmuan Siti Jenar, mata rantai pencarian intelektual dan perjalanan spiritualnya yang digali dari berbagai sumber, Sholikhin dengan tegas mengklaim bahwa ajaran sufi dan makrifat Siti Jenar adalah bermuara pada spiritualis Nabi Muhammad SAW. Karenanya, tidaklah tepat menyebut ajaran Siti Jenar sebagai aliran sempalan, apalagi aliran sesat, karena autensitas dan oroginalitasnya dapat dilacak dan dapat dipertangungjawabkan, baik secara ilmiah akademis maupun secara keruhanian.


Sholikhin juga membuktikan bahwa corak sufisme-filosfis yang diusung Siti Jenar secara geneologis tidak terpisah dan menyimpang dari konteks kefilsafatan dan spiritualitas Islam pada umumnya. Munculnya kontroversi tak lain disebabkan karena kedangkalan memahami “kemanunggalan” Siti Jenar. Dan ini jugalah yang dijadikan alasan majelis walisanga untuk mengakhiri nafas Siti Jenar sebab dikhawatirkan banyak rakyat akan sesat karena tidak memahami inti dan maksud ajaran Siti Jenar yang sesunguhnya.


Secara umum, pokok ajaran Siti Jenar bisa disebut sebagai “Ngelmu Ma’rifat Kasampurnaning Nagaurip”. Basis ilmiah ajaran ini adalah renungan filsafat yang bentuk aplikasinya adalah metafisika dan etika. Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni, dan antropologi. Ontologi berbicara ada dan tidak ada. Dalam hal ini Siti Jenar merumuskan tentang Hakekat Dzat Yang Maha Suci yang memiliki sifat, nama dan perbuatan “kami”. Dari “kami” inilah muncul ada dan keadaan lain, yang sifat hakikinya tunggal.


Kosmogoni berbicara tentang the Absolute Being (Dzat Yang Maha Kuasa). Dalam perwujudannya di dunia ini, the Absolute Being tidak lain adalah kodrat pribadi manusia itu sendiri. Dalam kodrat pribadi itulah tersimpan misteri cipta-mencipta. Dari aspek kosmogoni inilah, Siti Jenar berbicara tentang konsep biologi, fisika-kosmologi, psikologi, sosial, ekonomi dan politik. Sayangnya, selama ini orang hanya menganggap bahwa ajaran Siti Jenar hanyalah mistik Jawa an sich.


Dalam segi antropologi, Siti Jenar berbicara tentang manusia sebagai rahsa (innermost feeling). Siti Jenar menguraikan manusia pertama dan utama ditekankan sebagai makhluk rohani, yang pada dasarnya penuh dengan nilai-nilai kemuliaan dan keutamaan. Dengan mengungkapkan tentang anasir-anasir biologis yang membentuk jasad manusia. Siti Jenar menunjukkan bahwa sifat atau watak manusia yang buruk tidaklah asali, atau dari asalnya. Watak buruk yang kemudian memunculkan perilaku buruk tidak lain sebagai akibat dari pengaruh-pengaruh dari anasir kasar diri manusia.


Sedangkan ajaran etika berupa etika praktis, yakni tata laku susila sebagai sarana untuk memungkinkan transformasi dari manusia biasa menjadi manusia sempurna atau manusia paripurna, yang dalam istilah tasawuf disebut sebagai al-insan al-kamil. Titik tolak dari ajaran etika ini adalah eksisitensi manusia dalam struktur jasmani-rohaninya, yang dalam pelaksanaan sehari-hari disebut sebagai tapaning urip (bertapa dalam hidup). Dan inilah pula yang dikenal sebagai proses latihan mati sak jeroning hurip.


Buku ini sangat menarik untuk ditelisik terutama bagi penggemar kisah walisanga, dan kalangan ademisi serta ruhanian khususnya. Bukan semata untuk menambah polemik. Tapi lebih pada pencapaian pencerahan sejarah, dan pencerahan nuansa pemikiran serta spiritual bagi umat beragama di Indonesia, khususnya umat Islam. Sebagai rumpun bangsa yang mejemuk semestinyalah disadari bahwa dalam keberagaman, terdapat ajaran-ajaran yang sifatnya alternatif. Yang hal tersebut tetap menjadi bagian dari keluarga besar Islam dunia.

No comments: