Judul Buku : Ramayana
Penulis : Wawan Susetya
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 228 Halaman
Peresensi : Moh. Rusdi, Pustakawan Zainal Arifin Thoha Yogyakarta
Kisah Ramayana tentu sudah mendarah daging di Indonesia, terutama bagi masyarakat Jawa. Meski secara akar historis merupakan karya Walmiki, pujangga besar India, tapi kisah Ramayana sesuai dengan konteks sosiologis masyarakat Indonesia. Isinya yang bersifat universal menyangkut hidup dan kehidupan manusia penyebab kisah Ramayana cepat populer. Bahkan di Indonesia karena cukup digandrungi masyarakat, kisah Ramayana yang pada mulanya dibawa Hindu dan Budha oleh para Wali Songo diislamkan lalu dimanfaatkan sebagai sarana untuk berdakwah kepada masyarakat pada awal proses islamisasi di Jawa.
Cukup beralasan dan wajar apabila karya agung epos Ramayana di Indonesia sangat populer. Hal itu disebabkan karena memang masyarakat Jawa pada saat itu mayoritas beragama Hindu dan Budha sehingga mendukung memasyarakatnya kisah atau cerita yang berasal dari India ini. Pula karena isi cerita yang disuguhkan cukup cerdas menempatkan nilai-nilai keagamaan. Epos Ramayana berhasil membawa nilai-nilai mulia perjalanan hidup manusia dalam setiap plot ceritanya.
Karenanya, Wawan Susetya, penulis buku ini berupaya mengangkat kembali kisah Ramayana dalam buku berjudul Ramayana ini. Menurut Wawan, tak sesederhana yang selama ini dipahami, bahwa Ramayana hanyalah sepotong kisah perebutan seorang wanita (Dewi Shintha). Tapi sebenarnya Ramayana adalah sebuah kisah yang setidaknya mengandung beberapa makna religius-spiritual yang dikemas secara simbolis dan filosofis.
Kisahnya bermula dari Prabu Dasarata yang dikenal oleh seluruh rakyat sebagai raja dan pemimpin yang bijaksana dan adil. Prabu Dasarata bertahta di negara Ayodya, dikenal sebagai negara yang aman tentram, makmur dan lagi besar pengaruhnya. Beliau dikenal sebagai raja yang tunduk pada agama, mahir dalam bersastra dan memiliki kecerdasan seperti intelektual/cendikiawan. Persoalannya, meski sudah mempunyai permaisuri, Dewi Ragu, setelah beberapa tahun belum juga terlihat permaisurinya anggar bini (hamil). Tak ayal kehidupan sang prabu menjadi sedih lantaran belum mempunyai putera. Padahal Prabu Dasarata sangat menginginkan anak sebagai penerus tahta di Ayodya.
Beruntung sang Prabu memiliki permaisuri yang tanggap dan berjiwa besar. Dengan kebijaksanaan yang dimiliki Dewi Ragu akhirnya Prabu Dasarata diizinkan untuk meminang wanita lagi sebagai selir. Begitulah, atas permintaan garwa permaisuri, akhirnya Prabu Dasarata mengambil dua orang garwa selir, yakni Dewi Sumitra dan Dewi Kekayi. Dan tanpa diketahui permaisuri, Prabu Dasarata saat meminang Dewi Kekayi berjanji bahwa kelak kalau punya keturunan anaknya akan diangkat menjadi Raja Ayodya.
Tak disangka-sangka ketiga garwa Prabu Dasarata hamil, dan semuanya melahirkan anak. Dewi Ragu melahirkan anak yang bernama Raden Wijaya. Disusul Selir Dewi Sumitra melahirkan anak bernama Raden Laksmana. Dan selir Dewi Kekayi melahirkan anak yang bernama Raden Bharata. Ditambah lagi Raden Satruga yang keluar dari rahim Dewi Sumitra.
Dari beberapa anak Prabu Dasarata, Raden Rama Wijaya adalah sosok paling menonjol dan yang memiliki kelebihan dibandingkan saudara-saudara lainnya. Raden Rama sangat lincah dalam olah keprajuritan,dan terutama dalam hal panah memanah. Bukan hanya itu, Raden Rama juga dikenal sangat mumpuni dalam ilmu ketatanegaraan dan tatakrama. Nama Raden Rama pun menjadi semakin dipuja semenjak berhasil menumpas raseksa di hutan Dhandaka. Serta memenangkan sayembara mengangkat gendhewa waja dengan hadiah Dewi Shinta yang kemudian diperistrinya.
Namun tak selamanya nasib baik berpihak pada Raden Rama. Karena Prabu Dasarata tak kuasa menolak janjinya pada selir Dewi Kekayi mengenai tahta Ayodya.. Raden Rama lalu diasingkan diri ke tengah hutan belantara bersama istrinya Dewi Shinta dan adiknya Raden Laksmana. Keputusan ini atas paksaan Dewi Kekayi yang menginginkan Raden Rama untuk tinggal di hutan selama Raden Bharata menjadi pemimpin kerajaan. Meski dengan isak tangis membanjiri rakyat Ayodya, Raden Rama Wijaya tetap pergi dengan rela sepenuh hati menyerahkan kepemimpinanya pada saudaranya Raden Bharata.
Di hutan Dhandaka inilah, ketabahan, kesabaran dan jiwa satria Raden Rama diuji. Tak begitu lama hidup di hutan, Rama sudah kehilangan Dewi Shinta yang diculik Prabu Dasamuka, Raja Ngalengkadiraja. Musibah ini cukup membuat Rama berpikir keras, dan sepenuhnya harus sabar. Tentu sebagai ksatria pantang bagi Raden Rama untuk berputus asa, apalagi dirinya adalah titisan Bathara Wisnu yang bertugas menegakkan kebenaran dan keadilan dibumi. Hanya saja, persolan yang dihadapi adalah ketidaktahuannya tentang Ngalengkadiraja, tempat dimana istrinya Dewi Shinta berada.
Tak ada jalan lain, Raden Rama harus melangkah ke segala penjuru untuk mencari petunjuk dimana gerangan letak Negara Ngalengkadiraja. Akankah Raden Rama dan adiknya Raden Laksamana menemukan Negara Ngalengkadiraja? Berhasilkah ia meraih ketentraman di bumi dan kebahagiaannya sendiri? Ataukah keduanya akan meregang nyawa di tangan prabu Dasamuka yang terkenal sakti mandraguna pilih tanding?
Buku ini, menyuguhkan cerita dramatis mengenai perjuangan cinta, yang juga didalamnya jika digali secara mendalam terkandung berbagai macam kearifan. Hakikat mendasar dari kesetiaan, cinta, kejujuran, kepahlawanan dan keberanian adalah makna besar yang diusung oleh buku ini. Dan meski telah mengalami sedikit adaptasi ke dalam kebudayaan Jawa, yang kemudian melahirkan segudang nilai-nilai filosofis jawa, namun pemaparan kisah Ramayama dalam buku ini tetap dekat dengan prinsip-prinsip pokok kehidupan dan kemanusiaan universal. ***
Monday, 24 November 2008
Menggali Kearifan Kisah Ramayana
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment